Deodoran tanpa aluminium: berfungsi, atau hanya antiperspiran yang ampuh?
Utas “Apakah aku tidak masuk akal?” (AIBU) di Mumsnet yang mencapai 139 balasan berawal dari seseorang yang ingin mengurangi “bahan kimia” dengan beralih ke deodoran tanpa aluminium. Merek pertama membuatnya bau keringat setelah beberapa lama; merek kedua, katanya, benar-benar berbau parah dalam beberapa jam. Ia bertanya apakah merek ketiga layak dicoba sebelum membuang uang lagi.
Apa kata balasan
-
Hasilnya sangat beragam: merek yang sama dipuja sebagian orang dan tak berguna bagi yang lain. Pitrok (roll-on garam mineral) dan Fussy berulang kali disebut ampuh bagi penggunanya; deodoran batu kristal yang awet bertahun-tahun juga disebut.
-
Beberapa orang menegaskan bedanya: deodoran mengurus bau, antiperspiran mengurangi keringat. Mereka yang ingin tetap kering bilang tak ada produk tanpa aluminium yang bisa, lalu kembali ke antiperspiran kuat.
-
Satu balasan menyebut deodoran pada dasarnya parfum; yang lain membantah bahwa deodoran bekerja pada bakteri penyebab bau, bukan sekadar menutupi.
-
Sebagian bilang butuh berminggu-minggu beradaptasi setelah berhenti antiperspiran, dan satu merek sendiri menyebut lebih dari 5 minggu. Yang lain mengandalkan toner asam glikolat di ketiak atau beralih ke sabun batang.
-
Keluhan praktis: noda lilin di baju dan bra, wangi yang lemah, dan stik keras yang sulit dioles.
Catatan redaksi: Banyak orang beralih karena pernah mendengar aluminium dalam antiperspiran dikaitkan dengan kanker payudara. Cancer Research UK menyatakan studi-studi terbaik tidak menunjukkan kaitan antara aluminium, deodoran, dan kanker payudara. Jadi pilihannya sebenarnya soal seberapa banyak kamu berkeringat, apa yang cocok untuk kulitmu, dan bau. Kalau produk baru terasa perih atau gatal, coba dulu di area kecil dan hentikan bila ruam berlanjut.
Antiperspiran, deodoran, atau batu kristal: mana yang benar-benar ampuh untukmu?
Utas asli: Mumsnet AIBU — “Deodoran alami: ide bagus, tapi kurang ampuh?” · Referensi: Cancer Research UK — Apakah kosmetik menyebabkan kanker?
Bagi pembaca di Korea, perdebatan ini mungkin terasa agak asing. Studi BMC Genetics tahun 2009 melaporkan bahwa varian “kotoran telinga kering” pada gen ABCC11 sangat umum di Korea, Jepang, dan Tiongkok, dan orang yang membawa dua salinan varian ini jarang punya bau ketiak yang kuat. Tapi semua orang tetap berkeringat: kalau masalahnya basah, bukan bau, yang kamu butuhkan antiperspiran, bukan deodoran. Sumber: BMC Genetics (2009) — ABCC11 dan bau ketiak